Subscribe:

Pages

Sabtu, 26 November 2011

SIAPAKAH YANG MERASAI NI'MAT ATAU AZAB KUBUR?


Tentu para pembaca akan bertanya siapakah yang menerima pertanyaan kubur dari malaikat Munkar dan Nakir. Apakah badan kasar itu yang menjawab atau ruhnya?
Seperti apa yang telah diterangkan diatas, bahwa orang yang mati itu, adalah karena telah dicabut ruhnya oleh malaikatul-maut. Ruh kembali dibawa ke hadhirat Alloh dan ruh-ruh itu, ditempatkan di langit-langit pertama sampai langit ketujuh, sebagaimana telah dibicarakan. Dan tinggal jasadnya berada di dalam tanah, dan jasad ini sudah tidak berfungsi lagi apa-apa lagi, dia sudah kembali ke asal, asalnya mati dan kemudian jadi mati lagi!!!
Secara aqliah dan ilmiah memang sudah tidak berfungsi lagi, ibarat batu batery yang sudah tidak bermagnet lagi.
Jika demikian, siapakah yang merasai nikmat kubur atau siksaanya?
Dan siapakah yang menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir?
Bagaimana orang mati di dalam laut? Mati dimakan ikan, atau mati di telan ular, atau mati terbakar dan sebagainya?
Maka untuk menjawab pertanyaan ini baiklah kita selidiki kembali keadaan tubuh halus manusia. Yang dinamakan badan kasar yang terdiri dari darah, daging, kulit dan tulang. Tulang itu dibungkus dengan daging, pada daging itu mengalir darah, dan daging ini dibungkus dengan kulit.
Maka di dalam tubuh kasar itu ada beberapa macam tubuh halus yang masing-masing bekerja pada fungsinya sendiri-sendiri :
  1. Ruh untuk menghidupkan tubuh kasar,
  2. Rawan untuk menghayal,
  3. Akal untuk berfikir,
  4. Hawa budi rasa,
  5. Nafsu, iradat (jiwa),
  6. Malaikat hafazah, ruhani yang baik,
  7. Syetan jahat, untuk menimbulkan amarah.
Selagi manusia hidup dia ada mempunyai hawa dan nafsu.
Sekarang kembali kita bicarakan orang yang mati. Kita lihat dia sudah mati dan sudah dikubur didalam tanah. Apakah kita tahu ahli kubur itu sedang mengalami siksa atau nikmat kubur?
Cuma kita dapat mengatakan bahwa orang yang beriman dan beramal shalih akan mendapat nikmat kubur. Sebagai contohnya kita melihat orang sedang tidur, yang kita lihat dadanya naik turun, dengan nafasnya keluar masuk menghisap udara. Dapatkah kita mengetahui yang tidur itu sedang dapat mimpi senang atau dapat mimpi susah? Tidak!
yang jelas kita lihat dia sedang tidur. Apakah yang sedang dirasa oleh tubuh halusnya dalam mimpinya itu? kita baru dapat tahu apa yang dirasakan dalam mimpinya itu setelah ia menceritakan kepada kita.
Demikian pula orang yang mati, meskipun badan kasarnya musnah telah menjadi tanah, atau hancur dimakan apai, atau dimakan binatang buas, akan tetapi jiwa atau rasanya tetap hidup, tidak mati selama-lamanya.
Tubuh kasar manusia boleh tidur, dan boleh mati, akan tetapi tubuh halus manusia tetap abadi. Jiwa atau rasa manusia tidak tidur, tidak mati hangus terbakar tidak hancur dimakan api, dan tidak akan mati buat selama-lamanya.
Begitulah Tuhan ciptakan ruh itu selama-lamanya.
Menurut pendapat penulis, yang sering terjadi dikalangan umat manusiayang sering kesurupan, atau kemasukan ruh halus yang sering terjadi pada orang-orang perempuan, dan penulis sendiri sering menyaksikan peristiwa seperti itu.
Pernah terjadi pada tahun 1950 ketika penulis berada di garut, seorang wanita hamil tua, katanya "kemasukan" sedari soremaghribia tidak sadar, katanya tidak karuan.
Menurut keterangan orang tuanya katanya ketika maghrib ada kelapa jatuh dari pohonnya, kemudian dipungutnya oleh wanita yang hamil itu.
Nah mulai saat itulah wanita hamil ini "Mengoceh terus, mengaku "sianu" datang minta anu"
Kebetulan pada pagi harinya saya dipanggil datang kesitu, diminta tolong kepada saya supaya dapat mengusir ruh yang "menumpanginya". saya tahu bahwa itu bukan ruhani orang yang sudah mati, itu tidak lain adalah ruh Syaitani untuk mengelabui manusia, supaya orang mau percaya kepadanya.
Kemudian saya membaca Fatihah, membaca Qulhu, Qul a'udzu birobbil falaqi, birobbin nas, ayat kursi shalawat dan do'a.
Kemudian beberapa menit dengan izin Tuhan pulih kembali kesadarannya wanita itu.

PERHATIAN SITTI 'AISYAH KEPADA NABI S.A.W.


Riwayat dari Sitti 'Aisyah, ketika beliau duduk-duduk dirumah, datanglah Nabi serta mengucap salam serta dibalas salamnya oleh Sitti 'Aisyah sambil mau bangun berdiri untuk menyambut Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana biasanya beliau menyambut kedatangan Nabi sebagai suaminya.
"tak Usah" kata Nabi. Duduklah pada tempat semula, karena ada yang akan aku sampaikan kepadamu, hai Ummul-mu'minin ( ibu orang-orang mu'min ).
Sitti 'Aisyah tidak jadi berdiri, beliau terus duduk disitu dilantai, lalu Nabi meletakan kepalanya di pangkuan Sitti 'Aisyah, terus beliau tertidur dipangkuannya, rupanya Nabi sangat letih dihari itu. Begitulah kesayangan Nabi pada istrinya, dan demikian kesayangan Sitti 'Aisyah kepada suaminya. Sitti 'Aisyah dimasa itu kira-kira berumur 20 tahun lebih sedang Nabi sudah berumur 56 Tahun.
Kemudian setelah itu Sitti 'Aisyah memandangi wajah suaminya yang tengah tertidur lena dipangkuannya. Sitti 'Aisyah membelai janggut Nabi, yang mana nampaklah beberapa janggut Nabi yang sudah putih. Jika tidak salah sudah ada sembilan lembar yang telah memutih.
Maka seketika itu terfikirlah didalam hati Sitti 'Aisyah :
"Aduhai!" Rupanya tidak lama lagi beliau akan berpulang meninggalkan aku. Bagaimana kelak nanti jadinya, suatu umat tanpa Nabi? Dan bagaimanakah kelak hidupku tanpa suami?
Seketika itu berlinang air mata Sitti 'Aisyah di pipinya, lalu jatuh berderai-derai membasahi muka Nabi.
Karena hangatnya air mata, Nabi jadi bangun terjaga dan berkata dengan lemah lembut : "Wahai Ummul-mu'minin, mengapa engkau emnangis, apakah gerangan yang menyebabkan engkau jadi bersedih hati?"
Kemudian Sitti 'Aisyah menjawab dengan berlinang air mata : "Terbayanglah padaku akan masa yang akan datang. Bagaimanakah bila engkau esok lusa sudah menutup mata? Dan bagaimana kelak keadaan umatmu di masa itu? Dan bagaimanakah halku nanti hidup tanpa suami yang tempat aku mencurahkan rasa cinta? Kepada siapakah aku mengadukan nasibku, suami tak ada ayahpun tak punya?"
Kemudian Nabi balik bertanya : "Apakah lagi yang engkau takutkan selain dari itu?"
Jawab Sitti 'Aisyah : "Entahlah terserahlah engkau saja ya rosul yang dapat menerangkannya."
Kata Nabi : Yang lebih terasa bagi yang mati, ialah ketika jenazah dibawa keluar dari rumahnya, dia harus berpisah dari anak isterinya, berpisah dari kaum kerabatnya. Yang lebih terasa lagi bila ia sudah berada di dalam kubur. Berasa benar-benar dirinya sudah terasing, terasalah padanya benar-benar badannya sudah mati. Mati badan kasar sedang si-Ruh sudah berada di luar badan yang tidak mungkin dia bisa masuk lagi pada badannya. Dimasa itu barulah dia sadar bahwa dia telah berada di alam lain dari yang lain, di suatu alam yang tersembunyi oleh pandangan mata manusia. Alam itu ialah "Alam Barzakh" namanya atau alam kubur, artinya alam yang tertutup dari pandangan mata."

MENGAJAR KALIMAT TAUHID KEPADA ORANG YANG HAMPIR SEKARAT


Pembaca yang budiman.
Oleh sebab itu ketika kita menghadapi orang yang hampir sakaratul-maut, cobalah ucapkan berulang-ulang ditelinganya akan kalimat " لَا إِلَٰهَ إِلَّااللَّهُ " ," لَا إِلَٰهَ إِلَّااللَّهُ " perlahan-lahan, agar sisakit dapat menuruti ucapan itu.
Seperti sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

لقِّنُوامَوتَاكُمْ بِكَلِمَةَ لَا إِلَٰهَ إِلَّااللَّهُ

"Ajarilah orang yang akan mati diantara kamu dengan ucapan : Laa ilaaha illallooh"

Berkata 'Ulama, sesungguhnya hal ini bergantung kepada pribadi orang itu sendiri ketika ia masih hidup. Meskipun diajar kalimat tauhid berulang-ulang, tetapi jika orang itu bukan ahli ibadat, sukarlah atasnya untuk mengucapkan kalimat "Laa ilaaha illallooh".
Dapatkah mengucapkan kalimatulloh, jika selama hidupnya selalu membuta tuli kepada ibadat?
Dapatkah mengucapkan kalimatulloh, jika selama hidupnya tidak ingat akan Alloh?
Dapatkah mengucapkan "Laa ilaaha illallooh" jika semasa hayatnya tidak mau melaksanakan perintah Alloh?
Oleh karena itu kami serukan marilah kita sama-sama melaksanakan shalat lima waktu, karena tiap orang yang malaksanakan sholat lima waktu tiap didalam duduk tahyat selalu mengucapkan :

أُشْهِدُأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّااللَّهُ وَأُشْهِدُأَنَّ مُحَمَّدا رَسُولُ اللَّهِ

maka duduk membaca kalimat itu, seolah-olah melatih lidah, melatih jiwa supaya meresap ucapan "Laa ilaaha illallooh" lima kali sehari.
Mka manakala ia menghadapi sakaratul-maut lidahnya sudah biasa mengucapkannya.
Jadi meskipun hadirin membantu berulang-ulang kalimat tauhid kepada mereka yang sedang mau sekarat, tetapi lantaran semasa segarnya, selagi sehatnya tidak pernah melaksanakan sholat lima waktu, islam cuma menghiasi kartu penduduk saja. Maka sukarlah untuk mengucapkan kalimat itu, berat lidahnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, karena dalam sehat dan afiatnya dalam masa yang lama tidak pernah mengucapkannya.
Sebetulnya ucapan kalimat syahadat adalah ucapan "Ikrar" sumpah setia seorang pemeluk islam. Dicetuskan apa yang diyakinkan dalam hati dengan lidahnya, diiringi dengan amal ibadat sholat lima waktu karena Tuhannya.

SYETAN BERKESEMPATAN MENGGODA KETIKA ORANG AKAN DICABUT NYAWA


Tersebut didalam riwayat, apabila orang sedang menghadapi sakaratul-maut, disaat itu datanglah syetan menggoda. Dia merupakan dirinya seperti keluarga orang itu, yang telah meninggal. Ketika orang yang akan menghadapi maut, bermacam-macam merasakan penderitaan bathin :
  1. Terkenang akan perbuatannya yang maksiat,
  2. Karena belum bertaubat,
  3. Ingat akan keluarga,
  4. Ingat akan sakaratul-maut,
  5. Terlihat ditempat manaia akan kembali,
  6. Haus, Dahaga yang tidak terkira.
Disaat itu syetan merupakan dirinya, seperti keluarga yang telah meninggal sambil memegang gelas berisi air minum yang diemeng-emengkan didepan matanya. Jika ia mau ingkar dari imannya akan diberikan air minum itu.
Demikian syetan menggoda agar orang itu mati didalam kekufuran. Jika orang yang teguh imannya, dia tidak akan tertarik dengan bujukan syetan, karena ia tahu bahwa itu cuma tipuan saja.
Namun bagi mereka yang kuran iman, jadilah mereka ini mangsanya syetan, terjerumus di dalam kekufuran. Padahal air itu tidak diberikan tapi dia sudah murtad dari agamanya. Na'udzubillah!!!

DIMANAKAH BERADA RUH-RUH ORANG YANG SUDAH MATI?


Pembaca yang budiman.
Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita ikuti cerita apa yang dilihat Nabi Muhammad s.a.w. dalam mi'rajnya, ketika beliau menginjakan kakinya dilangit yang pertama sampai kelangit yang ketujuh, sebagai berikut :
Kata Nabi Muhammad s.a.w. :
Ketika aku tiba di langit yang pertama aku disambut oleh para malaikat, mereka berbaris seperti pasukan memberi hormat padaku. Aku diringi oleh malaikat Jibril dan aku ditanya apakah sudah ada ijin dari Tuhan? Jibril menjawab ya. Kami berdua di persilahkan masuk, seketika kami masuk aku lihat seorang laki-laki duduk di kurso dikerumuni orang banyak, yang baru saja datang ketika itu. Kemudian mereka pergi lalu datang rombongan yang lain datang mengerumuni orang itu juga. Aku bertanya siapa dia dan siapakah mereka itu?
Jibril berkata : "Itulah Adam a.s. dan rombongan arwah anak cucunya yang sedang datang menghadap beliau disaat itu."
Kemudian Jibril memperkenalkan aku, katanya : "Inilah Muhammad Nabi akhiri-zaman. Atas perintah dan kehendak Alloh, ia berkesempatan datang ketempat ini."
Kemudian Nabi Adam menjabat tanganku setelah aku mengucapkan salam.
Kata Nabi Adam : "Selamat datang anak yang shalih dan Nabi yang shalih."
Aku lihat Nabi Adam duduk dikursi yang indah serta memakai pakaian kebesaran laksana seorang raja. Seketika aku akan meneruskan perjalananku, beliau tidak lupa mendo'akan padaku. Setelah aku meninggalkan Nabi Adam, Jibril menerangkan : "Ruh-ruh yang masuk ke pintu sebelah kanan Nabi Adam, itulah mereka yang akan masuk syurga. selagi pintu itu terbuka, tercium bau harum dari arah pintu itu. Dan mereka yang masuk ke pintu sebelah kirinya, itulah ruh-ruh anak cucu Adam yang akan masuk neraka, maka ketika pintu itu terbuka tercium bau busuk dari situ.
Kemudian aku meneruskan ke langit yang kedua, aku bertemu disitu dengan Nabi Isa bin Maryam. Kelihatan Badannya segar bugar seperti orang habis mandi. Disitu aku melihat ruh Nabi Yahya dan Nabi Zakariya, dan ruh umatnya.
Dilangit ketiga aku melihat Nabi Yusup dan ruh para umatnya. Dilangit keempat bertemu dengan Nabi Idris dan para umatnya. Dilangit kelima aku bertemu dengan Nabi Harun dan para umatnya. Dilangit keenam aku bertemu Nabi Musa dan para umatnya. Maka atas usul Nabi Musa ini shalat yang tadinya 50 waktu menjadi 5 waktu.
Dan terakhir dilangit yang ketujuh aku bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s.
Demikian keterangan Nabi Muhammad s.a.w. Jadi kesimpulan daripada ruh Nabi-nabi dan ruh para umat yang telah meninggal dunia berada di langit-langit itu. Jelasnya : Ruh-ruh itu berwujud manusia juga sebagaimana tubuh kasarnya di dunia.

Jumat, 25 November 2011

BERMACAM-MACAM RUPA MALAIKATUL-MAUT KETIKA AKAN MENCABUT NYAWA


Diriwayatkan dalam hadits, ketika seorang akan mati, datanglah malaikatul-maut kepadanya, dengan bermacam-macam rupa. Ada dengan rupa yang menyenangkan, dan ada pula dengan rupa yang menakutkan.
Jika ia datang kepada orang mu'min dan sholih, dia datang dengan rupa manusia yang bagus dan menyenangkan dengan memakai pakaian bagus dan rapih serta harum baunya. Dengan lebih dulu mengucap "salam" serta dengan budi bahasa yang sopan, barulah dicabut nyawa orang itu, tidak dengan kekerasan.
Kalau sekiranya bukan kepada orang yang shalih, maka datanglah malaikat maut dengan rupa yang hebat dan menakutkan. Dengan rupa yang seram dan mengerikan, dan dengan secara paksa dan kasar sehingga merasa sangat sakit ketika ia mencabut nyawa orang itu.
Hal ini dapat disaksikan oleh yang hadir ketika melihat seorang sedang "Naza" sakaratul-maut. Ada orang yang ketika akan sakarat air mukanya nampak gelisah, ngeri dan kecut tampang mukanya. Ada yang ketika akan sekarat kelakuannya seperti ayam yang dipotong, waktu menghembuskan nafas yang penghabisan, mulutnya terbuka lebar dan biji matanya mendelik, menakutkan siapa yang melihatnya. Ini menandakan bahwa orang itu dalam sekarat yang menyakitkan. Dan inilah tandanya orang yang berdosa.
Ada orang yang akan mati, walaupun sakitnya telah payah, tapi kelihatannya tenang dan tentram. Terbayang ketenangan hatinya pada wajahnya.
Tidak nampak dimukanya takut dan ngeri. Kelihatan air mukanya manis dan berseri, senyumnya terlukis di bibirnya, walaupun matanya cekung dan mukanya pucat, karena sakitnya yang terlalu parah.
Tatkala menarik nafas penghabisan kelihatan ia tenang dan tentram, tidak gelisah. Inilah menandakan bahwa orang itu di dalam ketika sekarat, merasa bahagia, senang hatinya meninggalkan dunia ini.
Kata Imam Ghozali dalam kitabnya "Ihya' Ulumuddin", riwayat dari Ibnu Abbas : Katanya, Nabi Ibrahim a.s. adalah orang yang sangat teliti. beliau mempunyai ruangan khusus dijadikan tempat ibadat, dan apabila beliau akan pergi-pergian selalu pintunya dikunci dan anak kuncinya dipegang oleh beliau sendiri. Pada suatu ketika beliau membuka pintu kamarnya, beliau jadi terperanjat karena di dalam kamarnya ada orang laki-laki yang kelihatannya mencurigakan.
Tanya Nabi Ibrahim : "Siapakah yang mengijinkan engkau masuk ke kamar ini?"
"Yang menyuruhnya yang memiliki rumah ini", Jawab orang itu.
Kata Nabi Ibrahim : "Akulah yang memiliki rumah ini"
Kata orang itu : "Yang memiliki alam semesta"
Mendengar jawaban demikian Nabi Ibrahim menjadi agak terkejut, dan balik bertanya lagi :
"Kalau begitu, siapakah engkau?"
"Aku adalah malaikatul-Maut"
Nabi Ibrahim tambah terkejut lagi, tapi beliau tidak menunjukai kekejutannya itu, dn lalu bertnya lagi : "Dapatkah engau tunjuki rupamu bagaiman ketika engkau akan mencabut nyawa orang mu'min?"
"Tentu saja bisa, kata malaikatul-maut. Cobalah alihkan pandanganmu kesana........."
Nabi Ibrahim menengok kearah lain. Kemudian ketika itu, dilihatnya malaikat itu telah berganti rupa. Seorang pemuda tampan bagus wajahnya, serta berpakaian bagus pula dan harum.
Kata Nabi Ibrahim : "Kalau begini keadaanmu, datang kepada orang mu'min, sungguh menyenangkan."

SOAL MAUT


Sebagaimana kita maklum, Alloh jadikan makhluk yang bernyawa ada batasnya. Hidup itu ada batasnya, ialah yang dinamakan "Ajal"
seperti Firman Alloh dalam Al-Qur'an :

إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

"Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (10:49)"

Alloh Subhanahu Wa Ta'alaa Maha Bijaksana untuk mengambil nyawa hamba-Nya, tidak datang memperkosa begitu saja, tetapi dengan adil dan teliti. Biasanya Jika seseorang manusia akan sampai ajalnya, keluarga orang itu kadang-kadang mendapat alamat atau tanda-tanda. Misalnya jika salah seorang kelaurga ada yang akan meninggal dunia, maka diantara keluarga ada mimpi copot gigi. Demikian penulis alamkan berkali-kali. Atau kelakuan orang yang akan meninggal itu sendiri nampak ganjil-ganjil dan sebagainya.
Dan macam-macam pula yang menjadi sebab yang akan mendatangkan kematian manusia yang pada umumnyadisebabkan karena penyakit. Akan tetapi jaman sekarang banyak sekali yang mendatangkan sebab kematian manusia, sebab tabrakan kendaraan, sebab terkena setrum listrik, sebab karena pembunuhan, sebab bencana alam,sebab peperangan dan 1001 macam sebab lagi. Maka sedah menjadi peraturan atau hukum Alloh, Ia menjadikan sesuatu dengan ada sebab. Misalnya, Dia akan menjadikan keturunan manusia disebabkan dengan perkawinan seorang lelaki dengan seorang perempuan. Begitu seterusnya hukum Alloh berlaku sampai hari penutupan dunia, yaitu Kiamat.
Firman Alloh di dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 62 :

وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

"kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah."

Kalau pada zaman dahulu hanya kaum wanita yang melahirkan anak, maka sekarang pun begitu Tuhan jadikan, ya kaum wanita yang hamil dan melahirkan. Dari semenjak Sitti Hawa sampai sekarang dan sampai nanti akan datang.
Firman Alloh di dalam surat Al-'Imraan ayat 154 :

قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ

Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh".

Keterangan Alloh seperti ini sering terjadi, seperti pernah diceritakan peristiwa yang terjadi di zaman Nabi Sulaiman a.s.
Suatu ketika Nabi Sulaiman a.s. sedang duduk berkumpul bersama jama'ahnya sedang memberi pelajaran agama. Maka disaat itu datang seorang tamu yang tidak dikenal, yang matanya tidak lepas memandang kepada salah seorang yang hadir. Semua yang hadir menyaksikan, kemudian setelah sang tamu bercakap-cakap sebentar lalu keluar menghilang, maka pemuda yang dipandang oleh sang tamu tiba-tiba timbul mempunyai rasa gelisah, minta diantar pulang, sedang rumah orang itu jauh sekali, yaitu dinegeri cina.
Kemudian Nabi Sulaiman a.s. mengantarkan pemuda itu dengan menggunakan permadani yang dibawa angin.
Setelah pemuda itu diantarkan pulang, lalu Nabi Sulaiman a.s. menerangkan sebagai berikut :
"Sebenarnya tamu yang datang itu adalah Malaikatul-Maut. Siapa yang sangka dia datang merupakan dirinya seperti manusia. Dia bercakap-cakap padaku, katanya menurut catatannya, bahwa pemuda itu harus mati di negeri cina, tapi orangnya masih berada disini. Jadi malaikat itu meminta bantuanku supaya mengantarkan cepat-cepat ke negerinya. Demikian permintaan dan tugas malaikat itu, maka seketika sampai ke negerinya, ia terjatuh dari atas permadani, maka di saat itu Malaikatul-Maut mengambil nyawanya.
Tersebut pula dalam riwayat lain pada zaman dahulu, ada seorang laki-laki yang shalih, yang selalu mendo'a setiap hari demikian :
"Ya Alloh Ya Tuhanku, ampuni aku dan malaikat matahari"
Kemudian Alloh menyuruh Malaikat Matahari turun kebumi mengunjungi orang itu. Katanya : "Sesungguhnya engkau selalu mendo'akan aku, apakah kebutuhanmu?"
Jawab orang laki-laki itu : "Kebutuhanku, ialah bawalah aku ketempatmu, dan tanyakan kepada malaikatul-maut kapan sampai ajalku?
Lalu malaikat itu membopong orang itu, pergi ke tempatnya di matahari. Kemudian malaikat itu pergi bertanya kepada malaikatul-maut, soal ajal orang itu.
Malaikatul-maut segera melihat daftar nama-nama manusia, kemudian berkata : "Ya sudah dekat saatnya, bahwa ia akan mati bila sudah berada di matahari."
Maka tidak ayal lagi, malaikatul-maut mencabut nyawa orang laki-laki itu.
Itulah cerita zaman dahulu. Bagaimana cerita zaman sekarang?
Seorang muda ganteng, segar bugar, alias sehat badan dan sehat Fikirannya. Tinggal di kampung duri Barat Jakarta Pusat. Suatu ketika tiba-tiba saja datang ingatannya ia ingin pergi ke bogor. Lalu dipinjamnya sepeda motor tetangganya. Dengan senang hati tetangga ini memberi pinjam kepadanya. Kemudian berangkatlah pemuda itu dengan sepeda motor menuju tempat tujuannya, apa yang terjadi sesudah itu? Tiba-tiba keluarga mendapat telegram dari bogor, bahwa pemuda tersebut mendapat kecelakaan motor di bogor dan meninggal dunia di rumah sakit. Yang anehnya motor yang digunakan itu hanya mendapat kerusakan ringan saja. Dan penulis sendiri hadir membacakan do'a ketika diadakan tahlil malam pertama di rumahnya. Banyak cerita-cerita yang serupa dengan kejadian seperti demikian itu.
Demikian itulah yang dinamakan Qadha dan Qadar.